MAKALAH
CERITA PENDEK (CERPEN)
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata pelajaran
Bahasa Indonesia oleh Ibu Silvi.
Oleh :
Derizal Yanuar Fadilah (131410004)
Ivan
Nurfadillah (131410008)
SMK
PERSATUAN
ISLAM 02 BANDUNG
Jl. Sukamulya Dalam I RT. 06/09 Kel. Sukaasih Kec. Bojongloa Kaler
Telpon: (022) 86064174 Bandung 40233, Email: smk02persis.bdg@gmail.com
KOTA BANDUNG
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan
nikmat serta hidayah-Nya
terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini . Kemudian shalawat beserta salam kita sampaikan kepada
Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni
al-qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia.
Makalah ini merupakan salah satu tugas mata pelajaran
Bahasa Indonesia dengan judul “CERITA PENDEK (CERPEN)”. Selanjutnya kami
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Silvi selaku guru
mata pelajaran Bahasa Indonesia dan kepada segenap pihak yang telah memberikan
bimbingan serta arahan selama penulisan makalah ini.
Akhirnya kami menyadari bahwa banyak terdapat
kekurangan-kekurangan dalam penulisan makalah ini, maka dari itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.
Bandung, 08 April 2015
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR ………………………………………………… i
DAFTAR ISI
…………………………………………………………... ii
|
BAB
I
|
CERITA PENDEK (CERPEN)
|
|
|
|
A. Pengertian Cerpen …………………………………
|
1
|
|
|
B. Sejarah Cerpen……………………………………
|
1
|
|
|
C. Cerita-cerita Pendek
Modern ………………………
|
6
|
|
|
D. Unsur dan Ciri
khas…………………………………
1. Unsur Instrinstik…………………………………
2. Unsur Ekstrinstik…………………………………
E. Ukuran Cerpen………………………………………
F. Genre Cerpen………………………………………
G. Struktur Cerpen………………………………………
H. Ciri-ciri Cerpen……………………………………
|
7
8
9
9
10
10
11
|
|
BAB
II
|
PENUTUP
|
|
|
|
A.
Kesimpulan………………………………………
|
12
|
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
CERITA PENDEK (CERPEN)
A. Pengertian Cerpen
Cerita pendek atau
sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada
tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi lain yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses
mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih
panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.
Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan
cepat tiba pada tujuannya, dengan paralel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur,
dengan contoh-contoh dalam cerita-cerita karya E.T.A. Hoffmann dan Anton Chekhov.
B.
Sejarah Cerpen
Cerita
pendek bermula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah
terkenal seperti Iliad
dan Odyssey
karya Homer.
Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi
yang berirama. Adapun irama tersebut berfungsi sebagai alat untuk menolong orang
untuk mengingat ceritanya. Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini
dipusatkan pada naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu
kesempatan pendek. Keseluruhan kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan
bagian cerita tersebut telah disampaikan.
Fabel, yang
umumnya berupa cerita rakyat
dengan pesan-pesan moral di dalamnya, konon dianggap oleh sejarahwan Yunani Herodotus
sebagai hasil temuan seorang budak Yunani yang bernama Aesop pada abad ke-6 SM (meskipun ada kisah-kisah lain yang berasal dari
bangsa-bangsa lain yang dianggap berasal dari Aesop). Fabel-fabel
kuno ini kini dikenal sebagai Fabel Aesop.
Akan tetapi ada pula yang memberikan definisi lain terkait istilah Fabel.
Fabel, dalam khazanah Sastra Indonesia seringkali, diartikan sebagai cerita
tentang binatang sebagai pemeran(tokoh) utama. Cerita fabel yang populer
misalnya Kisah Si Kancil, dan sebagainya.
Selanjutnya,
jenis cerita berkembang meliputi sage, mite, dan legenda. Sage merupakan cerita
kepahlawanan. Misalnya Joko Dolog. Mite atau mitos lebih mengarah pada cerita
yang terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat tentang sesuatu. Contohnya
Nyi Roro Kidul. Sedangkan legenda mengandung pengertian sebagai sebuah cerita
mengenai asal usul terjadinya suatu tempat. Contoh Banyuwangi.
Bentuk
kuno lainnya dari cerita pendek, yakni anekdot, populer pada masa Kekaisaran Romawi.
Anekdot berfungsi seperti perumpamaan,
sebuah cerita realistis yang singkat, yang mencakup satu pesan atau tujuan.
Banyak dari anekdot Romawi yang bertahan belakangan dikumpulkan dalam Gesta Romanorum
pada abad ke-13
atau 14. Anekdot tetap populer di
Eropa hingga abad
ke-18, ketika surat-surat anekdot berisi fiksi
karya Sir Roger de Coverley diterbitkan.
Di
Eropa, tradisi bercerita lisan mulai berkembang menjadi cerita-cerita tertulis
pada awal abad ke-14, terutama sekali dengan terbitnya karya Geoffrey Chaucer Canterbury Tales
dan karya Giovanni Boccaccio Decameron.
Kedua buku ini disusun dari cerita-cerita pendek yang terpisah (yang merentang
dari anekdot lucu ke fiksi sastra yang dikarang dengan baik), yang ditempatkan
di dalam cerita naratif yang lebih besar (sebuah cerita kerangka),
meskipun perangkat cerita kerangka tidak diadopsi oleh semua penulis. Pada
akhir abad ke-16,
sebagian dari cerita-cerita pendek yang paling populer di Eropa adalah
"novella" kelam yang tragis karya Matteo Bandello
(khususnya dalam terjemahan Perancisnya). Pada masa Renaisan, istilah novella
digunakan untuk merujuk pada cerita-cerita pendek.
Pada
pertengahan abad
ke-17 di Perancis terjadi perkembangan novel
pendek yang diperhalus, "nouvelle", oleh pengarang-pengarang seperti Madame de Lafayette.
Pada 1690-an, dongeng-dongeng
tradisional mulai diterbitkan (salah satu dari kumpulan yang paling terkenal
adalah karya Charles
Perrault). Munculnya terjemahan modern pertama Seribu Satu Malam
karya Antoine Galland
(dari 1704; terjemahan lainnya muncul pada 1710–12) menimbulkan pengaruh yang
hebat terhadap cerita-cerita pendek Eropa karya Voltaire, Diderot
dan lain-lainnya pada abad
ke-18.
C.
Cerita-cerita Pendek Modern
Cerita-cerita
pendek modern muncul sebagai genrenya
sendiri pada awal abad
ke-19. Contoh-contoh awal dari kumpulan cerita
pendek termasuk Dongeng-dongeng Grimm
Bersaudara (1824–1826), Evenings
on a Farm Near Dikanka (1831-1832) karya Nikolai Gogol, Tales
of the Grotesque and Arabesque (1836), karya Edgar
Allan Poe dan Twice Told Tales (1842) karya Nathaniel Hawthorne.
Pada akhir abad ke-19, pertumbuhan majalah dan jurnal melahirkan permintaan
pasar yang kuat akan fiksi pendek antara 3.000 hingga 15.000 kata panjangnya.
Di antara cerita-cerita pendek terkenal yang muncul pada periode ini adalah
"Kamar No. 6" karya Anton
Chekhov.
Pada
paruhan pertama abad
ke-20, sejumlah majalah terkemuka, seperti The Atlantic Monthly, Scribner's,
dan The
Saturday Evening Post, semuanya menerbitkan
cerita pendek dalam setiap terbitannya. Permintaan akan cerita-cerita pendek
yang bermutu begitu besar, dan bayaran untuk cerita-cerita itu begitu tinggi,
sehingga F. Scott Fitzgerald
berulang-ulang menulis cerita pendek untuk melunasi berbagai utangnya.
Permintaan
akan cerita-cerita pendek oleh majalah mencapai puncaknya pada pertengahan abad
ke-20, ketika pada 1952 majalah Life
menerbitkan long cerita pendek Ernest Hemingway yang panjang (atau novella) Lelaki Tua dan Laut.
Terbitan yang memuat cerita ini laku 5.300.000 eksemplar hanya dalam dua hari.
Sejak
itu, jumlah majalah komersial yang menerbitkan cerita-cerita pendek telah
berkurang, meskipun beberapa majalah terkenal seperti The
New Yorker terus memuatnya. Majalah sastra
juga memberikan tempat kepada cerita-cerita pendek. Selain itu, cerita-cerita
pendek belakangan ini telah menemukan napas baru lewat penerbitan online.
Cerita pendek dapat ditemukan dalam majalah online, dalam kumpulan-kumpulan
yang diorganisir menurut pengarangnya ataupun temanya, dan dalam blog.
D.
Unsur dan Ciri khas
Cerita
pendek cenderung kurang kompleks dibandingkan dengan novel. Cerita pendek
biasanya memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting
yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat.
Dalam bentuk-bentuk fiksi yang lebih panjang, ceritanya
cenderung memuat unsur-unsur inti tertentu dari struktur dramatis: eksposisi (pengantar setting, situasi dan tokoh
utamanya); komplikasi (peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik);
aksi yang meningkat, krisis (saat yang menentukan bagi si tokoh utama dan
komitmen mereka terhadap suatu langkah); klimaks (titik minat tertinggi dalam
pengertian konflik dan titik cerita yang mengandung aksi terbanyak atau
terpenting); penyelesaian (bagian cerita di mana konflik dipecahkan); dan
moralnya.
Karena
pendek, cerita-cerita pendek dapat memuat pola ini atau mungkin pula tidak.
Sebagai contoh, cerita-cerita pendek modern hanya sesekali mengandung
eksposisi. Yang lebih umum adalah awal yang mendadak, dengan cerita yang
dimulai di tengah aksi. Seperti dalam cerita-cerita yang lebih panjang, plot
dari cerita pendek juga mengandung klimaks, atau titik balik. Namun, akhir dari
banyak cerita pendek biasanya mendadak dan terbuka dan dapat mengandung (atau
dapat pula tidak) pesan moral atau pelajaran praktis. Seperti banyak bentuk seni
manapun, ciri khas dari sebuah cerita pendek berbeda-beda menurut pengarangnya.
Cerpen mempunyai 2 unsur yaitu:
1.
Unsur Intrinsik
Unsur
intrinsik adalah unsur yang membangun karya itu sendiri. Unsur–unsur intrinsik
cerpen mencakup:
a.
Tema adalah ide pokok
sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber cerita.
b.
Latar(setting)
adalah tempat, waktu , suasana yang terdapat dalam cerita. Sebuah cerita harus
jelas dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika
cerita berlangsung.
c.
Alur (plot) adalah
susunan peristiwa atau kejadian yang membentuk sebuah cerita.
Alur
dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Alur
maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu
kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus.
b. Alur
mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan
waktu kejadian atau cerita yang bergerak mundur (flashback).
c. Alur
campuran adalah campuran antara alur maju dan alur mundur.
Alur
meliputi beberapa tahap:
a. Pengantar:
bagian cerita berupa lukisan , waktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal
cerita.
b. Penampilan
masalah: bagian yang menceritakan masalah yang dihadapi pelaku cerita.
c. Puncak
ketegangan / klimaks : masalah dalam cerita sudah sangat gawat, konflik
telah memuncak.
d. Ketegangan
menurun / antiklimaks : masalah telah berangsur–angsur dapat diatasi dan
kekhawatiran mulai hilang.
e. Penyelesaian
/ resolusi : masalah telah dapat diatasi atau diselesaikan.
(a)
Perwatakan
Menggambarkan
watak atau karakter seseorang tokoh yang dapat dilihat dari tiga segi yaitu
melalui:
1.
Dialog tokoh
2.
Penjelasan tokoh
3.
Penggambaran fisik tokoh
(b)
Tokoh
Tokoh
adalah orang orang yang diceritakan dalam cerita dan banyak mengambil peran
dalam cerita. tokoh dibagi menjadi 3, yaitu:
1.
Tokoh Protagonis :
tokoh utama pada cerita
2.
Tokoh Antagonis :
tokoh penentang atau lawan dari tokoh utama
3.
Tokoh Tritagonis :
penengah dari tokoh utama dan tokoh lawan
(c)
Nilai (amanat) adalah pesan
atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita.
2.
Unsur Ekstrinsik
Unsur
ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara
tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Unsur
ekstrinsik meliputi:
1.
Nilai-nilai dalam cerita
(agama, budaya, politik, ekonomi)
2.
Latar belakang kehidupan
pengarang
3.
Situasi sosial ketika
cerita itu diciptakan
E.
Ukuran Cerpen
Menetapkan
apa yang memisahkan cerita pendek dari format fiksi lainnya yang lebih panjang
adalah sesuatu yang problematik. Sebuah definisi klasik dari cerita pendek
ialah bahwa ia harus dapat dibaca dalam waktu sekali duduk (hal ini terutama
sekali diajukan dalam esai Edgar Allan Poe "The
Philosophy of Composition" pada 1846).
Definisi-definisi lainnya menyebutkan batas panjang fiksi dari jumlah
kata-katanya, yaitu 7.500 kata. Dalam penggunaan kontemporer, istilah cerita
pendek umumnya merujuk kepada karya fiksi yang panjangnya tidak lebih dari
20.000 kata dan tidak kurang dari 1.000 kata.
Cerita
yang pendeknya kurang dari 1.000 kata tergolong pada genre fiksi kilat (flash fiction).
Fiksi yang melampuai batas maksimum parameter cerita pendek digolongkan ke
dalam novelette, novella, atau novel.
F.
Genre Cerpen
Cerita
pendek pada umumnya adalah suatu bentuk karangan fiksi, dan yang paling banyak
diterbitkan adalah fiksi
seperti fiksi
ilmiah, fiksi horor, fiksi detektif,
dan lain-lain. Cerita pendek kini juga mencakup bentuk nonfiksi
seperti catatan perjalanan, prosa lirik
dan varian-varian pasca modern
serta non-fiksi seperti fikto-kritis atau jurnalisme
baru.
diceritakan
secara ringkas yang berfokus pada suatu tokoh sja. Maksud dari cerita pendek
disini ialah ceritanya kurang dari 10.000 (sepuluh ribu) kata atau kurang dari
10 (sepuluh) halaman. Selain itu, cerpen hanya memberikan kesan tunggal yang
demikian dan memusatkan diri pada satu tokoh dan satu situasi saja.
G.
Struktur cerpen
Struktur teks
cerpen dintaranya ada 6 (enam) bagian yaitu:
1.
Abstrak - merupakan ringkasan ataupun inti dari cerita yang akan
dikembangkan menjadi rangkaian-rangkaian peristiwa atau bisa juga gambaran awal
dalam cerita. Abstrak bersifat opsional yang artinya sebuah teks cerpen boleh
tidak memakai abstrak.
2.
Orientasi - adalah yang berkaitan dengan waktu, suasana, maupun tempat
yang berkaitan dengan cerpen tersebut.
3.
Komplikasi - Ini berisi urutan kejadian-kejadian yang dihubungkan secara
sebab dan akibat, pada struktur ini kamu bisa mendapatkan karakter ataupun
watak dari tokoh cerita sebab kerumitan mulai bermunculan.
4.
Evaluasi - Yaitu struktur konflik yang terjadi yang mengarah pada
klimaks mulai mendapatkan penyelesainya dari konflik tersebut.
5.
Resolusi - Pada struktur bagian ini si pengarang mengungkapkan solusi
yang dialami tokoh atau pelaku.
6.
Koda - Ini merupakan nilai ataupun pelajaran yang dapat diambil dari
suatu teks ceriita oleh pembacanya.
H.
Ciri-ciri Cerpen
1.
Terdiri kurang dari 10.000 (sepuluh ribu) kata.
2.
Bentuk tulisan yang singkat tentunya lebih pendek dari Novel.
3.
Isi dari cerita berasal dari kehidupan sehari-hari.
4.
Penokohan dalam cerpen sangat sederhana.
5.
Bersifat fiktif.
6.
Hanya mempunyai 1 alur.
7.
Habis dibaca sekali duduk.
8.
Penggunaan kata-kata yang mudah dipahami oleh pembaca.
9.
Mengangkat beberapa peristiwa saja dalam hidup tidak seluruhnya.
10.
Kesan dan pesan yang ditinggalkan sangatlah mendalam sehingga si pembaca
ikut merasakan isi dari cerpen tersebut.
BAB
II
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan atau uraian yang
telah diberikan pada bab–bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan
dan saran–saran perbaikan dan pengembangan sistem.
A.
Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil adalah :
1. Bertambahnya
ilmu mengenai cerpen.
2. Bertambah
dalam membuat makalah.
DAFTAR PUSTAKA
(pukul 08.50, 08 april 2015)
(pukul 07.00, 08 april 2015)
(pukul 07.00, 08 april 2015)

No comments: