Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5


Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa salaam



Tibaus surur
Syarat yang pertama mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salaam adalah kita mengikuti sunnah Nabi. Dan sumber sunnah Nabi berasal dari Shahabat nabi salah satunya yaitu khulafaur rasyidin, kita tidak akan tahu menau tentang sunnah Nabi kalau tidak ada shahabat maka dari itu betapa pentingnya kita tau tentang shahabat. Bahkan ada sekelompok orang yang berani mengkafirkan shahabat, shahabat dianggap kafir yang dari khulafaur rasyidin kecuali hanya Ali saja. Mereka menganggap bahwa dari tiga shahabat ini yakni Abu bakar ash-shiddiq, Umar bin khattab, dan Usman bin Affan itu merampas dari kekhalifahan Ali bin abi thalib. Maka dari itu bagaimana kita tahu tetang sunnah Nabi kalau shahabat saja dikafirkan. Firman Allah Subhaanhu wa ta’ala dalam QS Al-imran/03:31
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ( ال عمران:31)
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Ali-imran : 31)
Bahkan Ibnu katsir menafsirkan dalam tafirnya yang artinya “yang pokok itu bukan klaim kita mencintai, tapi yang pokok itu bahwa klaim kita dicintai
Sudah jelas Ibnu katsir menjelaskan bahwa ketika kita menklaim mencintai takut timbul cinta bertepuk sebelah tangan, tetapi kalau kita mengklaim dicintai insyaAllah tidak akan timbul cinta bertepuk sebelah tangan.
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa salaam
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab Ats Tsaqafi berkata, telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka" (shahih bukahri kitab al-iman bab halawatil iman no 16 )
            Cinta yang pertama, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta seperti ini, menurut al-hafizh ibnu hajar al-ashqalani adalah cinta ikhtiyari, cinta yang memang harus diusahakan. Cinta ini bukan merupakan cinta thab’i, cinta thab’i ini memang sudah ada dari sejak lahir seperti cinta kepada istri, anak, orangtua, saudara, kakek, nenek, dll. Dan cinta ikhtiyari juga mutlak harus memerlukan ilmu. Yakni memerlukan ilmu yang banyak agar seseorang benar-benar cinta kepada Allah dan Rasu-Nya.
            Salah satu di antara ilmu yang dimaksud adalah kesadaran manusia tentang penciptaan manusia, Tujuan Allah subhaanahu wa ta’ala menciptakan manusia adalah hanya untuk beribadah kepada-Nya. Sesuai Firman Allah dalam QS. Adz-dzariyat ayat 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (الذريات:56)
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-dzariyat ayat 56)
            Sudah jelas ayat diatas menjelaskan bahwa salah satu tujuan Allah menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Nah, maka dari itu ini adalah salah satu ilmu mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhaanahu wa ta’ala menurunkan Rasul ke setiap umat untuk membina berakidah dengan benar, beribadah dengan benar, berekonomi dengan benar, bertransaksi dengan benar. Kalau Allah tidak menurunkan Rasul ke setiap apalah arti kita berada didunia ini.
            Maka dari itu, secinta-cintanya kita kepada keluarga, anak, isrti, kakek, nenek, dll. Itu tidak membawa kita sampai ke liang lahat dan menjadi pengacara ketika kita diintrogasi langsung oleh Allah subhaanahu wa ta’ala. Jabatan kita, istri kita, anak kita tidak akan menjadi pangacara. Yang akan menjadi pengacara kita adalah amal sholeh kita selama kita hidup didunia. Dan ketika diintrogasi yang ditanya oleh malaikat bukan identitas siapakah yang mati, istrinya, anaknya, hartanya, jabatannya, melainkan siapakah Rabb dan Rasul-Nya  yang ia taati. Maka dari itu, Allah dan Rasul-Nya yang mentukan keselamatan kita.
            Dan yang menjadi saksi terakhir kelak pada saat yaumul hisab adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Firman Allah wa ta’ala
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ  (البقرة:143)
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (Qs. Al-baqarah ayat 143) .
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا(النساء:41)
Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu (Qs. An-nisa ayat 41)
            Dua ayat diatas sudah jelas bahwa yang akan menjadi saksi adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan oleh harta, jabatan, ataupun yang lainnya. Bahkan ketika seseorang muslim ada yang merasakan sakitnya siksa neraka, satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka untuk masuk surga hanya syafa’at Nabi Muhamad shallallhu ‘alaihi wa sallam. Di sinilah kita harus mengikuti sunnah Nabi sebagai bentuk kita cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat penting menghayati keimanan yang satu ini, sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam :
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Ulayyah dari Abdul 'Aziz bin Shuhaib dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam Dan telah menceritakan pula kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qotadah dari Anas berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya". (shahih bukhari bab hubbir-rasul minal iman no 14-15)
            Cinta yang tulus kepada Allah dan Rasul-Nya akan mendorong menolak kepada kekufuran. Sebab jika sudah terikat dengan akidah dan ibadah itu tidak bisa ditoleran
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)
1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, 2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah., 3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah., 4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, 5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah., 6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."
            Maka dari itu, kita harus senantiasa mencintai baginda Nabi shallallahu wa sallam dengan mengikuti sunnah-sunnah yang ada, Bukan mengada-ngada. Wal-‘Llahu a’lam 

 

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment


Top