Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa salaam
Tibaus surur
Syarat
yang pertama mencintai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salaam adalah kita mengikuti
sunnah Nabi. Dan sumber sunnah Nabi berasal dari Shahabat nabi salah satunya
yaitu khulafaur rasyidin, kita tidak akan tahu menau tentang sunnah Nabi kalau
tidak ada shahabat maka dari itu betapa pentingnya kita tau tentang shahabat. Bahkan
ada sekelompok orang yang berani mengkafirkan shahabat, shahabat dianggap kafir
yang dari khulafaur rasyidin kecuali hanya Ali saja. Mereka menganggap bahwa
dari tiga shahabat ini yakni Abu bakar ash-shiddiq, Umar bin khattab, dan Usman
bin Affan itu merampas dari kekhalifahan Ali bin abi thalib. Maka dari itu bagaimana
kita tahu tetang sunnah Nabi kalau shahabat saja dikafirkan. Firman Allah Subhaanhu
wa ta’ala dalam QS Al-imran/03:31
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ
اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ( ال عمران:31)
Katakanlah:
"Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (Qs. Ali-imran : 31)
Bahkan Ibnu
katsir menafsirkan dalam tafirnya yang artinya “yang pokok itu bukan klaim
kita mencintai, tapi yang pokok itu bahwa klaim kita dicintai”
Sudah
jelas Ibnu katsir menjelaskan bahwa ketika kita menklaim mencintai takut timbul
cinta bertepuk sebelah tangan, tetapi kalau kita mengklaim dicintai insyaAllah
tidak akan timbul cinta bertepuk sebelah tangan.
Sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wa salaam
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ
قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ
مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ
إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ
يُقْذَفَ فِي النَّارِ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna
berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab Ats Tsaqafi berkata, telah
menceritakan kepada kami Ayyub dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik dari Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tiga perkara yang
apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman:
Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika
ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia
benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka" (shahih
bukahri kitab al-iman bab halawatil iman no 16 )
Cinta yang pertama, cinta kepada
Allah dan Rasul-Nya. Cinta seperti ini, menurut al-hafizh ibnu hajar
al-ashqalani adalah cinta ikhtiyari, cinta yang memang harus diusahakan.
Cinta ini bukan merupakan cinta thab’i, cinta thab’i ini memang sudah ada dari
sejak lahir seperti cinta kepada istri, anak, orangtua, saudara, kakek, nenek,
dll. Dan cinta ikhtiyari juga mutlak harus memerlukan ilmu. Yakni
memerlukan ilmu yang banyak agar seseorang benar-benar cinta kepada Allah dan
Rasu-Nya.
Salah satu di antara ilmu yang
dimaksud adalah kesadaran manusia tentang penciptaan manusia, Tujuan Allah
subhaanahu wa ta’ala menciptakan manusia adalah hanya untuk beribadah
kepada-Nya. Sesuai Firman Allah dalam QS. Adz-dzariyat ayat 56
وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (الذريات:56)
Dan aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
(QS. Adz-dzariyat ayat 56)
Sudah
jelas ayat diatas menjelaskan bahwa salah satu tujuan Allah menciptakan manusia
hanya untuk beribadah kepada-Nya. Nah, maka dari itu ini adalah salah satu ilmu
mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhaanahu wa ta’ala
menurunkan Rasul ke setiap umat untuk membina berakidah dengan benar, beribadah
dengan benar, berekonomi dengan benar, bertransaksi dengan benar. Kalau Allah
tidak menurunkan Rasul ke setiap apalah arti kita berada didunia ini.
Maka
dari itu, secinta-cintanya kita kepada keluarga, anak, isrti, kakek, nenek,
dll. Itu tidak membawa kita sampai ke liang lahat dan menjadi pengacara ketika
kita diintrogasi langsung oleh Allah subhaanahu wa ta’ala. Jabatan kita,
istri kita, anak kita tidak akan menjadi pangacara. Yang akan menjadi pengacara
kita adalah amal sholeh kita selama kita hidup didunia. Dan ketika diintrogasi
yang ditanya oleh malaikat bukan identitas siapakah yang mati, istrinya,
anaknya, hartanya, jabatannya, melainkan siapakah Rabb dan Rasul-Nya yang ia taati. Maka dari itu, Allah dan
Rasul-Nya yang mentukan keselamatan kita.
Dan
yang menjadi saksi terakhir kelak pada saat yaumul hisab adalah Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Firman Allah wa ta’ala
وَكَذَلِكَ
جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ
الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ
عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى
عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ
رَحِيمٌ (البقرة:143)
Dan demikian
(pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar
kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi
saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi
kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang
mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu
terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh
Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (Qs.
Al-baqarah ayat 143) .
فَكَيْفَ
إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ
شَهِيدًا(النساء:41)
Maka
bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang
saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai
saksi atas mereka itu (sebagai umatmu (Qs.
An-nisa ayat 41)
Dua
ayat diatas sudah jelas bahwa yang akan menjadi saksi adalah Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan oleh harta, jabatan, ataupun yang lainnya.
Bahkan ketika seseorang muslim ada yang merasakan sakitnya siksa neraka,
satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka untuk masuk surga hanya syafa’at
Nabi Muhamad shallallhu ‘alaihi wa sallam. Di sinilah kita harus
mengikuti sunnah Nabi sebagai bentuk kita cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam sangat penting menghayati keimanan yang satu ini, sabda Nabi shalallahu
‘alaihi wa sallam :
حَدَّثَنَا
يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ عَبْدِ
الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ
أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ
أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ
أَجْمَعِينَ
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim
berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Ulayyah dari Abdul 'Aziz bin
Shuhaib dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam Dan telah menceritakan
pula kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari
Qotadah dari Anas berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya
daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya". (shahih bukhari bab hubbir-rasul minal iman no 14-15)
Cinta yang tulus kepada Allah dan
Rasul-Nya akan mendorong menolak kepada kekufuran. Sebab jika sudah terikat
dengan akidah dan ibadah itu tidak bisa ditoleran
قُلْ يَا أَيُّهَا
الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ
مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ
عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)
1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah., 3. Dan kamu bukan penyembah
Tuhan yang aku sembah., 4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu
sembah, 5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.,
6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."
Maka
dari itu, kita harus senantiasa mencintai baginda Nabi shallallahu wa sallam
dengan mengikuti sunnah-sunnah yang ada, Bukan mengada-ngada. Wal-‘Llahu
a’lam
No comments: